PENGANTAR
Morfologi
Morfologi merupakan salah satu dari
tataran ilmu linguistik yang mempelajari dan menganalisis struktur, bentuk
serta klasifikasi kata. Di dalam bahasa Arab kajian dari morfologi ini di
disebut denganتصريف yaitu perubahan satu
bentuk kata menjadi bermacam-macam bentukan untuk mendapatkan makna yang
berbeda dan tanpa ada perubahan tersebut makna yang berbeda tidak akan
diperoleh (Alwasilah, 1993: 110)
Sebagai contoh perubahan bentuk
dasar علم “alima” (mengetahui) menjadi beberapa bentuk
diantaranya, diantaranya علّم /`allama/ ’mengajar’, اعلم /a'lama/’memberitahukan’, تعلَّم /ta`allama/
’belajar’, عالم /`ālimun/ ’yang mengetahui’ Perubahan bentuk dasar
menjadi beberapa bentuk tersebut adalah dengan menambahkan afiks. Penambahan
afiks pada contoh di atas ada yang berupa prefiks (kata depan) yaitu pada kata اعلم /a`lama/
dan ada pula yang berupa infiks (sisipan) yaitu pada kata علّم /`allama/
dan عالم
/`ālimun/ dan ada pula yang berupa gabungan afiks yang ditambahkan di
awal dan di tengah yaitu pada kata تعَلَّم /ta`allama/.
Perubahan bentuk /`alima/ menjadi علّم /`allama/,
اعلم
/a`lama/, dan تعلَّم /ta`allama/ yang berubah hanya identitas leksikalnya
saja sedangkan status kategorialnya tetap, sedangkan perubahan bentuk علم /`alima/
menjadi عالم
/`ālimun/ yang berubah tidak hanya identitas leksikalnya tetapi juga
status kategorialnya. (Khudri, 2004: 6).
Kridalaksana (2001: 142) mengatakan
bahwa morfologi adalah bidang linguistik yang mempelajari morfem dan
kombinasi-kombinasinya. Ditambahkannya juga bahwa morfologi merupakan bagian
dari struktur bahasa yang mencakup kata dan bagian-bagiannya.
Menurut Nida (1967: 1) menyatakan
bahwa morfologi membicarakan seluk-beluk
morfem dan susunan morfem dalam pembentukan kata. Lebih lanjut
disebutkan juga bahwa di dalam proses pembentukan kata tersebut terdapat
pengaruhnya terhadap fungsi dan arti.
Sementara itu, Ramlan (1976: 16),
mengatakan bahwa morfologi adalah bagian
dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk kata serta pengaruh
perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata atau
mempelajari seluk-beluk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu,
fungsi gramatik maupun fungsi semantik.
Ya`qub (Tth: 186) dalam Nasution
(2006: 116), menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan morfologi dalam bahasa Arab
adalah:
أخذ
آلة من
أخرى بتغييرما,
مع التناسب
في المعنى
/akhżu kalimatin min ukhrā bitagyīri mā, ma`a at-tanāsubi fīl
ma`nā/
"Membentuk kata dari kata yang lain dengan berbagai perubahan,
namun tetap memiliki hubungan makna".
Sejalan dengan pendapat Ya`qub di
atas, Syahrin (1980: 80) dalam Nasution (2006: 116), juga menyebutkan bahwa
yang dimaksud dengan morfologi di dalam bahasa Arab adalah:
أخذ
صيغة من
أخرى مع
انفاقها مادة
اصلية ومعنى
/akhżu şīgatin ukhrā ma`a infāqihā māddah aşliyyah wa ma`nā/
“Membuat bentuk kata dari kata yang lain dan terjadi perubahan pada
bentuk dan makna”.
Dari defenisi-defenisi yang telah
dikemukakan para linguis tersebut dapatlah ditarik sebuah kesimpulan bahwa
morfologi adalah bidang linguistik yang membicarakan tentang pembentukan kata
dengan cara menggabungkan morfem.
2.2. Pembentukan Kata Bahasa Arab
Sistem penulisan Bahasa Arab dimulai
dari kanan ke kiri. Huruf yang dipergunakan dalam tulisan Arab keseluruhannya
merupakan konsonan. Untuk dapat melafalkan bunyi yang berwujud konsonan
tersebut maka diberi حرآة /harakah/ (baris) yang berupa vokal yang diletakkan di
atas atau di bawah konsonan tersebut. Harakah terbagi 3 (tiga), yaitu fathah,
kasrah dan dammah. Penulisan fathah yaitu dengan melambangkan
vokal /a/ yang diletakkan di atas konsonan dengan menggunakan tanda _ . Kasrah
yaitu dengan melambangkan vokal /i/ yang diletakkan di bawah konsonan dengan
menggunakan tanda _ dan Dammah yaitu dengan melambangkan vokal /u/ yang diletakkan
di atas konsonan dengan menggunakan tanda _ . Selain daripada ketiga tanda tersebut
masih ada lagi tanda sukun. Tanda sukun ini dipergunakan apabila suatu
konsonan tidak diberi harakah /a/, /i/, atau /u/.
Tanda ini diletakkan di atas konsonan dan dilambangkan dengan tanda _. Sebagai
contoh, apabila kata nazartu yang artinya 'saya melihat' maka cara penulisannya:
ن, ظ, ر, ت (dari
kanan ke kiri). Tulisan yang terpisah itu kemudian disambungkan menjadi: نظرت /nazartu/.
Selanjutnya untuk kata-kata berupa ism (nomina) apabila ism tersebut
tidak definitif maka biasanya mendapatkan tanda tanwin yang berupa harakah
ganda di akhir ism tersebut yang dilambangkan dengan tanda _ , _ , _
yang apabila dibaca: an, in, dan un. Khusus untuk tanwin
fathah (_) penulisannya disertai dengan alif terkecuali untuk kata
yang diakhiri dengan ta marbutah Kemudian konsonan alīf ( ا ), waw
( و
), dan yā ( ي ) berfungsi untuk memanjangkan bunyi harakah yang
sesuai. Tanda panjang ini dikenal dengan istilah mad. Selain itu apabila
ada dua konsonan yang sejenis dan konsonan kedua dari konsonan yang sejenis itu
berharakah, maka di dalam penulisannya hanya satu saja yang ditulis
dengan meletakkan tanda tasydid ( _ ) di atas konsonan tersebut. Selain
dari yang telah disebutkan di atas, ada pula perbedaan lain dengan huruf Latin.
Huruf Latin dapat menyambung dan dapat pula disambung, sedangkan huruf Arab
yang keseluruhannya berupa konsonan dapat disambung tetapi tidak semua dapat menyambung,
seperti dal, zal, ra, zay dan waw. (Khudri, 2004: 8-9).
Pembentukan kata dalam bahasa Arab
dikenal dengan istilah şarfiyyah dan proses pembentukan kata tersebut
diperoleh melalui taşrīf. Secara etimologi taşrīf berarti
perubahan, sedangkan secara terminologi taşrif berarti membicarakan
tentang cara pembentukan kata dan segala sesuatu yang berhubungan dengan
hurufnya, seperti penyambungan huruf, pergantian huruf `illat,
penambahan huruf (afiksasi) yang disertai dengan modifikasi internal
(al-Gulayaini, 1987: 207).
Melalui proses pembentukan kata
diperoleh bentukan-bentukan yang mungkin hanya berubah bentuk dasar atau
asalnya, mungkin pula berubah identitas leksikalnya tanpa perubahan status
kategorialnya atau berubah kedua-duanya baik identitas leksikal maupun status kategorialnya.
Proses yang pertama menghasilkan bentukan-bentukan yang disebut dengan inflektif,
sedangkan proses yang mengubah identitas leksikal tanpa perubahan status kategorialnya
dan yang mengubah identitas leksikal sekaligus status kategorialnya merupakan
bentukan derivatif (Verhaar, 1983: 66-67).
Pembentukan kata dalam bahasa Arab
terdapat perbedaan tentang dasar pembentukannya. Para linguis yang berasal dari
Basrah berpendapat bahwa dasar pembentukan kata dalam bahasa Arab adalah مصدر /maşdar/
(infinitif), sedangkan para linguis yang berasal dari Kufah mengatakan bahwa
dasarnya dari فعل الماضي /fi`lu almādi (kata kerja yang telah lampau).
Dari kedua pendapat itu penulis
lebih condong kepada pendapat yang kedua, yaitu yang mendasarkan pembentukan
kata dari fi`lun (verba). Argumentasi penulis mendasarkan pembentukan
kata dari fi`lun (verba) adalah bahwa di dalam proses pembentukan kata (taşrīf)
itu senantiasa dimulai dengan fi`lun (verba) dan tidak pernah dimulai
dengan maşdar. Selain itu, banyak sekali dijumpai fi`lun (verba)
yang memiliki bentuk maşdar yang bermacam-macam. Misalnya kata كذب /każaba/
’berdusta’ memiliki bentus maşdar: كذبا /każiban/, كذبا /kiżban/, كذبة /kiżbatan/, كذبا /kiżaban/, dan كذّابا /kiżżāban/.
Jadi tidaklah dapat diterima sesuatu yang dinamakan dasar memiliki bermacam-macam
bentuk. Dalam kamus bahasa Arab dalam urutan kata selalu dimulai dengan fi`lun
(verba) dan setelah itu barulah bentuk maşdar (infinitif). (Khudri, 2004:
10).
Di dalam bahasa Arab dikenal tiga
macam jenis kata yaitu: فعل /fi`lun/ (verba), إسم /ismun/ (nomina) yang termasuk di dalamnya ajektifa,
adverbia, dan pronomina serta yang terakhir adalah حرف /harfun/ (partikel). Verba bahasa
Arab ditinjau dari segi bentuknya dapat dibedakan menjadi dua yaitu mujarrad
(yang belum mendapat tambahan afiks) dan mazīd (yang telah mendapat
tambahan afiks). Ditinjau dari segi jumlah konsonannya juga dibagi menjadi dua yaitu
sulāsi (tiga konsonan) dan rubā`I (empat konsonan). (Lajnah,
1978: 113). Selanjutnya dari verba tiga konsonan dan empat konsonan tersebut
dibentuk berbagai macam kata. Oleh karena jenis kata dalam bahasa Arab hanya
dibagi tiga saja, maka dalam pembentukan kata hanya dikenal bentukan verba
deverbal (verba yang dibentuk dari verba), nomina deverbal (nomina yang dibentuk
dari verba), dan ada juga bentukan verba denominal (verba yang dibentuk dari nomina)
namun untuk bentukan yang terakhir ini jumlahnya terbatas. Harfun tidak
masuk kelompok yang mengalami pembentukan. (Khudri, 2004: 10-11). Hal ini
karena harfun hanya berfungsi sebagai penghubung antar kata dan tidak
terpengaruh perubahan.
Dalam bahasa Arab istilah kata disebut
dengan الكلمة /al-kalimah/. Gabungan dari dua الكلمة /al-kalimah/
atau lebih disebut dengan الجملة /al-jumlah/. Dengan demikian kata dalam bahasa
Arab disebut dengan الكلمة /al-kalimah/ 'kalimat', yang mana kalimat dalam
bahasa Indonesia disebut الجملة /al-jumlah/ dalam bahasa Arab. Al-Jurjani dalam Nasution
(2006: 100) menjelaskan, الجملة /al-jumlah/ adalah:
عبارة
عن مركب
من كلمتين
أُسندت إحداهما
إلى الأخرى
سواء أفاد
كقولك "زيد
قائم", أو لم
يَفد, كقولك
"ان
يكرمنى".
"Sebuah ungkapan yang tersusun dari dua kata, yang satu di isnad-kan
kepada yang lain, apakah sempurna, seperti ”si zaid berdiri” atau belum,
seperti “jika ia memuliakan saya”".
Bahasa Arab memiliki sistem yang
sangat variatif dalam pembentukan katanya. Dari satu akar kata dapat
dikembangkan menjadi beberapa kata, sehingga tidak mengherankan jika kosa kata
bahasa Arab sangat banyak.
2.3. Proses Morfemis
Bloomfield (1976: 161) memberikan
defenisi mengenai morfem sebagai berikut: "a linguistics form which
bears no partial phonetic-semantic resemblance to any other form, is a
simple form or a morpheme". Terjemahannya sebagai berikut: “Satu
bentuk bahasa yang sebagiannya tidak mirip dengan bentuk lain mana pun juga,
baik bunyi maupun arti, adalah bentuk tunggal atau morfem”.
Morfem adalah satuan bahasa terkecil
yang mengandung makna. (Arifin & Zunaiyah, 2007: 2).
Chaer (2003: 159) menyebutkan bahwa
sebuah morfem dasar dapat menjadi sebuah bentuk atau dasar (base) dalam
suatu proses morfologi. Artinya, bisa diberi afiks tertentu dalam proses
afiksasi, bisa diulang dalam suatu proses reduplikasi, atau bisa digabung
dengan morfem lain dalam suatu proses komposisi.
Morfem adalah komposit pengertian
yang terkecil yang sama atau mirip yang berulang. (Samsuri, 1980: 170). Morfem
(morpheme): satuan bahasa terkecil yang maknanya secara relatif stabil yang
tidak dapat lagi dibagi atas bagian makna yang lebih kecil. (Kridalaksana,
2001: 141).
Proses Morfologis (morphological
process): proses yang mengubah leksem menjadi kata. Dalam hal ini leksem
adalah input dan kata merupakan output. (Kridalaksana, 2001:
180).
Proses Morfemis merupakan proses
pembentukan kata bermorfem jamak baik derivatif maupun inflektif. (Parera,
1994: 18).
Chaer (2003: 177) membagi proses
morfemis ke dalam 7 (tujuh) bagian, yaitu melalui proses:
1.
Afiksasi
2.
Reduplikasi
3.
Komposisi
4.
Konversi,
5.
Modifikasi Internal,
6.
Suplesi dan
7.
Pemendekan
1.
Afiksasi yang di dalam bahasa Arab disebut
dengan istilah الزّوائد /az-zawāid/ adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah
dasar atau bentuk dasar. Dalam proses ini terlibat unsur-unsur:
1.
Dasar atau bentuk dasar,
2.
Afiks, dan
3.
Makna gramatikal yang dihasilkan
Proses
ini dapat bersifat inflektif dan dapat pula bersifat derivatif. (Chaer, 2003: 182).
Al-Khuli (1982: 131) dalam bukunya A
Dictionary of Theoretical Linguistics (English-Arabic) menyebutkan bahwa
yang dimaksud dengan Infleksi dalam istilah bahasa Arab adalah:
التصريف:
إِضافة زوائد
الكَلمة لتدلّ
على وظيفتها
في الجملة
وعلاقتها بسواها.
/at-taşrīfu: idāfatu zawāidi al-kalimati litadulla `alā
wazīfatihā fī aljumlati wa `alāqatiha bisiwāhā/.
"Infleksi: menambahkan beberapa huruf tambahan kepada satu
kata dengan tujuan merubah fungsinya dalam kalimat dan hubungannya dengan
kata-kata yang sebelum dan sesudahnya".
Al-Khuli (1982: 70) bahwa yang
dimaksud dengan Derivasi dalam istilah bahasa Arab adalah:
الإشتقاق:
تكوين كلمة
أخرى تتّحد
معها في
الجذر, مثل
(كاتب) المشتقة
من (كتب) ويكَوّن
الإشتقاق عادة
بإضافة زائدة
واحدة و أو
أكثَر إِلى
الجذر أو
السّاق.
/al-isytiqāqu: takwīnu kalimatin ukhrā tattahidu ma`ahā fī
al-juzri, mislu (kātibun) al musytaqqatu min (kataba) wa writer al-musytaqqatu
min write. Wa yukawwinu al-isytiqāqu `ādatan bi idāfati zā'idatin wāhidatin aw
aksara ilā al-juzri aw as-sāqi.
"Derivasi: pembentukan satu kata baru yang serupa dengan kata
sebelumnya ditinjau dari akar kata pembentukannya, seperti kata (katibun)
dibentuk dari kata (kataba), sama halnya seperti kata writer yang
dibentuk dari kata write. Biasanya pembentukan kata derivasi
yaitu dengan menambahkan satu huruf tambahan atau lebih kepada akar kata
aslinya".
Dalam KBBI (1988: 9), yang dimaksud
dengan afiks adalah bentuk terikat yang ditambahkan pada kata dasar atau bentuk
dasar (spt. prefiks, konfiks, atau sufiks): imbuhan.
Al-Khuli (1982: 8) menyebutkan bahwa
yang dimaksud dengan Afiks dalam istilah bahasa Arab adalah:
الزائدة:
مرفيم يضاف
قبل الجذر
فيسمّى سابقة
, أو داخلَه
فَيسمّى داخلَة
, أوبعده فيسمّى
لاحقة , أَو
فوقَه فيسمّى
عالية . وهكذا,
فإِنّ الزّائدةَ
أَرْبعة أَنواع،
هي السابقة (prefix)و الداخلة (infix)و اللاحقة(suffix) و
العالية (superfix)
"Afiks: morfem yang ditambahkan
atau diletakkan sebelum akar kata yang asli dinamakan sābiqah, atau
tambahan yang dimasukkan ke tengah-tengah akar kata disebut dākhilah,
atau tambahan yang diletakkan setelah akar kata disebut lāhiqah, atau
yang diletakkan di atasnya disebut `āliyah. Maka afiks ada empat macam,
yaitu sābiqah atau prefiks, dākhilah atau infiks, lāhiqah atau
sufiks, dan `āliyah atau superfiks".
Adapun yang dimaksud dengan afiksasi
dalam KBBI (1988: 9), adalah pemberian imbuhan (prefiks, konfiks, sufiks) pada
kata dasar. Al-Khuli (1982: 8) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan Afiksasi
dalam istilah bahasa Arab adalah:
الزّواَئد:
إضافة زائدة
قَبل الجذر
أوبعده أو
داخله لإشتقاقِ
كلمة جديدة.
"Afiksasi: penambahan satu huruf tambahan yang diletakkan di
awal akar kata atau setelahnya atau diantaranya dengan tujuan membentuk kata
yang baru".
Dilihat dari posisi melekatnya pada
bentuk dasar biasanya dibedakan adanya prefiks, infiks, sufiks, konfiks,
interfiks, dan transfiks. (Chaer, 2003: 178). Berikut diuraikan
bagian-bagian dari afiksasi beserta contohnya:
a. Prefiks : afiks yang diimbuhkan di muka bentuk dasar.
Contoh: me- pada kata menghibur
b. Infiks : afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar.
Contoh: -el pada kata telunjuk
c. Sufiks : afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar.
Contoh:
-kan pada kata bagaikan
d. Konfiks : afiks yang berupa morfem terbagi, yang bagian pertama
berposisi pada awal bentuk
dasar, dan bagian yang kedua
berposisi pada akhir bentuk dasar.
Contoh: per-/-an seperti
terdapat pada kata pertemuan
e. Interfiks : sejenis infiks atau elemen penyambung yang muncul
dalam proses penggabungan
dua buah unsur. Interfiks banyak
dijumpai dalam bahasa-bahasa Indo German.
Contoh: Unsur 1 Unsur 2 Gabungan
Makna
Tag Reise Tag.e.reise day’s journey
f. Transfik : afiks yang berwujud vokal-vokal yang diimbuhkan pada
keseluruhan dasar.
Contoh:
di dalam bahasa Arab konsonan k-t-b → kita:b
→ ka:tib.
(Chaer, 2003: 177 182).
2.
Reduplikasi
yang di dalam bahasa Arab disebut dengan istilah التضعيف /at-tad`īf/
adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan,
secara sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi.
Dalam KBBI (1988: 735), yang
dimaksud dengan reduplikasi adalah hal perulangan kata atau unsur kata, seperti
yang terjadi pada kata rumah-rumah, tetamu. Berikut diuraikan
bagian-bagian dari reduplikasi beserta contohnya:
a. Dwilingga: Pengulangan morfem dasar.
Contoh: meja-meja
b. Dwilingga salin suara: Pengulangan morfem dasar dengan perubahan
vokal dan fonem
lainnya.
Contoh: bolak-balik
c. Dwipurwa: Pengulangan silabel pertama.
Contoh: lelaki
d. Dwiwasana: Pengulangan pada akhir kata.
Contoh: cengengesan
e. Trilingga: pengulangan morfem dasar sampai dua kali.
Contoh: dag-dig-dug (Chaer,
2003: 182-183).
3.
Komposisi
atau yang di dalam bahasa Arab disebut dengan istilah الجملة
الإضافية /al-jumlatu
al-idāfiyyah/ adalah hasil dari proses penggabungan morfem dasar dengan
morfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk sebuah
konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda atau baru.
Dalam KBBI (1988: 453), yang
dimaksud dengan komposisi adalah: susunan, tata
susun, dan gubahan. Berikut adalah contoh dari proses komposisi: lalu
lintas, daya juang, rumah sakit. Dalam bahasa Arab; أخيرالكلام /akhīrulkalāmi/,
حجرالاسود /hajarul aswadi/, ملائكة الموت /malāikatulmauti/, dll.
(Chaer, 2003: 185).
4.
Konversi,
sering juga disebut derivasi zero, transmutasi, dan transposisi adalah proses
pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental.
Berikut adalah contoh dari proses konversi: Kata cangkul adalah nomina
dalam kalimat Ayah membeli cangkul baru, tetapi dalam kalimat Cangkul
dulu baik-baik tanah itu, baru ditanami adalah verba. (Chaer, 2003: 188-189).
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, maka contoh tersebut pada kata 'cangkul'
di atas akan mengalami perubahan segmental.
5.
Modifikasi
internal (sering disebut juga penambahan internal atau perubahan internal) yang
dalam bahasa Arab disebut dengan التعديل الدّاخليّ /at-ta`dīlu addākhiliyyu/ adalah
proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur (yang biasanya berupa
vokal) ke dalam morfem yang berkerangka tetap (yang biasanya berupa konsonan). Berikut
adalah contoh dari proses modifikasi internal: Di dalam bahasa Arab konsonan
k-t-b → kita:b
→ ka:tib.(Chaer,
2003: 189-190).
6.
Suplesi
atau yang di dalam bahasa Arab disebut dengan التغيّير الكامليّ /at-tagaiyyaru al-kāmiliyyu/
adalah merupakan bagian dari modifikasi internal lain di dalam proses suplesi
perubahannya sangat ekstrim karena ciri-ciri bentuk dasar tidak atau tidak
tampak lagi. Boleh dikatakan bentuk dasar itu berubah total. Berikut adalah
contoh dari proses suplesi: Dalam bahasa Inggris;
go went
be was/were
must had to (Chaer, 2003: 190-191).
7.
Pemendekan(Abreviasi)
yang di dalam bahasa Arab disebut dengan istilah الكتابيّ الإختصار /al-ikhtisāru al-kitābiyyu/ adalah proses
pemenggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah
bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya. Dalam
berbagai kepustakaan, hasil dari proses pemendekan ini biasanya dibedakan atas:
a.
Penggalan
: Kependekan berupa pengekalan satu atau dua suku pertama dari bentuk yang
dipendekkan
itu.
Contoh: lab, atau labo untuk
laboratorium
b.
Singkatan
: Hasil proses pemendekan, yang antara lain berupa;
1.
Pengekalan
huruf awal dari sebuah leksem, atau huruf awal dari gabungan leksem.
Contoh: DPR (Dewan Perwakilan Rakyat).
2.
Pengekalan
beberapa huruf dari sebuah leksem.
Contoh: hlm (halaman) dan bhs (bahasa).
3.
Pengekalan
huruf pertama dikombinasi dengan penggunaan angka untuk pengganti huruf yang
sama.
Contoh: P4 (Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila).
4.
Pengekalan
dua, tiga, atau empat huruf pertama dari sebuah leksem.
Contoh: Ny (nyonya) dan Okt (Oktober).
5.
Pengekalan
huruf pertama dan huruf terakhir dari sebuah leksem.
Contoh: Ir (Insinyur) dan Jo (Junto).
c.
Akronim
: Hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat dilafalkan sebagai kata. Wujud
pemendekannya dapat berupa pengekalan huruf-huruf pertama, berupa pengekalan
suku-suku kata dari gabungan leksem, atau bisa juga secara tak beraturan. Contoh:
juklak (petunjuk pelaksanaan), inpres (instruksi presiden) dan wagub (wakil
gubernur). (Chaer, 2003: 191)
d.
Kontraksi adalah proses pemendekan yang meringkaskan kata
dasar atau gabungan kata, seperti:
- tak dari tidak
- sendratari dari seni drama dan tari
- berdikari dari berdiri di atas kaki sendiri
- rudal dari peluru kendali
- tak dari tidak
- sendratari dari seni drama dan tari
- berdikari dari berdiri di atas kaki sendiri
- rudal dari peluru kendali
Al-Khuli (1982: 1) dalam bukunya A
Dictionary of Theoretical Linguistics (English-Arabic) menyebutkan bahwa
yang dimaksud dengan Pemendekan dalam istilah bahasa Arab adalah:
الإختصار
الكتابيّ: أن
يكتفى ببعض
حروف الكَلمة
أو العبارة
عن الكَلمة
أوالعبارة كلهاَ.
مثل(إلَخ) المختَصرة
عن(إِلى أخره).
وقَد يصاحب
الإختصار الكتابي إِختصار
في اللَفظ
مثل :he’ll المختصر عن he will
"Pemendekan: cukup dengan menyebutkan sebagian huruf dari satu
kata atau dari satu ungkapan atau dari sebuah ungkapan secara keseluruhan. Seperti
kata (ilakh) merupakan bentuk pemendekan dari (ila akhirihi). Jika
ada pemendekan dalam tulisan maka pemendekan dalam pengucapan juga akan
terjadi. Seperti he'll merupakan pemendekan dari he will".
Dalam bahasa Arab ditemukan istilah النحت /an-nahtu/
yang berarti 'akronim'. Dalam kamus bahasa Kontemporer Arab-Indonesia ditemukan
bahwa النحت
/an-nahtu/ berarti ‘pengukiran atau pemahatan’. (Ali dan Ahmad Zuhdi,
1996: 132).
Secara terminologi, النحت /an-nahtu/
menurut Wafi (1962: 180) dalam Nasution (2006: 114) adalah:
أن
تنتزع أصوات
كلمة من
كلمتين فأكثر
أو من
جملة للدلالة
على معنى
مركب من
معانى الأصوات
التى انتزعت
منها.
"Membentuk sebuah kata dari dua atau beberapa kata yang
menunjukkan satu
makna yang sama dari kata atau kalimat yang dipendekkan".
Selain istilah النحت /an-nahtu/, ada istilah lain untuk Akronim yaitu الكَلمة الأوائليّة /al-kalimatu
al-'awāiliyyatu/ sebagaimana defenisi berikut:
الكَلمة
الأوائليّة: كلمة
تتكوّن من
الحروف الأوٍّليّة
في عدّة
كلمة, مثل
NATO تتكوّن
من أوائل
North Athlantic Treaty Orgnization و(البسملة)
من أوائل
(بسم الله)،
و(الحوقلة) من
أوئل(لاحول ولا
قوّةَ إلا
بالله).
"Akronim: kata yang terbentuk dari huruf awal dari gabungan
kata, seperti kata NATO yang merupakan gabungan huruf awal dari kata North
Athlantic Treaty Orgnization, dan begitu juga halnya dengan (albasmalah)
yang terbentuk dari (bismillah), dan (al-hawqūlah) yang terbentuk
dari (lā hawla wa lā quwwata illā billāhi/".
2.4. Landasan Teori
Peneliti menggunakan teori Chaer
tentang proses morfemis. Defenisi-defenisi yang terdapat dalam proses morfemis
yaitu mengenai Afiksasi, Reduplikasi, Komposisi, Konversi, Modifikasi Internal,
Suplesi, dan Pemendekan juga diambil dari pendapat Chaer.
Menurut Chaer (2003: 147) untuk
menentukan sebuah satuan bentuk adalah morfem atau bukan, adalah dengan cara
membandingkan bentuk tersebut di dalam kehadirannya dengan bentuk-bentuk lain.
Kalau bentuk tersebut ternyata bisa hadir secara berulang-ulang dengan bentuk
lain, maka bentuk tersebut adalah sebuah morfem.
Penelitian ini berpedoman kepada
teori dari aliran tata bahasa struktural. Hal ini
didasari karena konsep morfem baru diperkenalkan oleh kaum
strukturalis pada awal abad kedua puluh.
Teori ini dipelopori oleh seorang
linguis ternama yang bernama Leonard Bloomfield. Bloomfield (1976: 161)
memberikan defenisi morfem sebagai berikut: ”a linguistics form which bears
no partial phonetic-semantic resemblance to any other form, is a simple
form or a morpheme” yaitu: “Satu bentuk bahasa yang sebagiannya tidak mirip
dengan bentuk lain mana pun juga, baik bunyi maupun arti, adalah bentuk tunggal
atau morfem”.
Proses morfemis (Samsuri: proses
morfologis; Ramlan; proses morfologik) ialah proses pembentukan kata dengan
menghubungkan morfem yang satu dengan yang lain. Salah satu wujud proses
morfemis ialah penggabungan morfem dasar dengan morfem afiks. Umpamanya dalam
bahasa Indonesia penggabungan morfem dasar ajar, dengan berbagai afiks
akan menghasilkan kata-kata:
- mengajar,
- belajar,
- pelajar,
- pelajaran,
- pengajar,
- mengajarkan,
- mengajari,
- mempelajari,
- diajar,
- diajarnya,
- diajarkan,
- diajari,
- kuajar, dan seterusnya.
Verhaar (1983) dalam Salombe (1982:
31-32) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan proses morfemis (dalam bahasa
tertentu adalah suatu proses sistemis. Pernyataan itu didasarkannya atas
penerapan analisis Tata Bahasa Proses dengan teori Lehman. Menurut tata bahasa
itu, proses morfemis bersifat sinkronis. Morfologi sinkronik menelaah
morfem-morfem dalam satu cakupan waktu tertentu, baik waktu lalu ataupun waktu
kini.
Pada hakikatnya morfologi sinkronik adalah
satu analisis linear, yang mempertanyakan apa-apa yang merupakan komponen
leksikal dan komponen sintaksis kata-kata, dan bagaimana caranya
komponen-komponen tersebut menambahkan, mengurangi, atau mengatur kembali
dirinya dalam berbagai ragam konteks. Morfologi sinkronik tidak ada
sangkut-pautnya atau tidak menaruh perhatian pada sejarah atau asal-usul kata
dalam bahasa. Tarigan (1986: 4-5).
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal. 2008. MORFOLOGI (Bentuk, Makna, dan Fungsi).
Jakarta: Kompas Gramedia

0 komentar:
Posting Komentar